Ghea tertawa kecil mendengarnya. “Well, jadi berapa total bill meja nomor 4 plus kopinya?”
“Oh, iya, sebentar. Ini kartu nama restoran.” Pemuda itu mengambil dua lembar kartu nama Restoran ‘Melokal’ dari tumpukan kartu nama di kotak akrilik. “Ada nomor telepon kami di kartu ini. Silahkan dibawa kartunya dan disimpan nomornya. Hubungi saja nomor tersebut untuk memastikan lagi kopi pesanan kakak.”
“Oke. Saya save nomornya sekarang saja.” Ghea mulai memasukkan nama dan nomor telepon resto ‘Melokal’ ke dalam kontak ponselnya. “Sudah. Barusan saya kirim pesan ‘Halo’.”
“Baik, nanti saya cek,” jawab pria kasir. “Totalnya 19,18 dollars.”
Ghea membayar tagihannya. Lalu, dia pamit pergi dan menyusul Reta yang asyik dengan ponselnya. Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke apartemen Airbnb yang sudah dipesan.
Keesokan harinya Ghea dan Reta bersiap pergi ke University of Sydney. Hati Ghea tidak nyaman sejak semalam. Semakin dia ingin percaya pada tunangannya, Deryl, semakin dia ragu padanya. Belum lagi adanya bukti-bukti kebersamaan Deryl dengan seorang wanita yang sama dimanapun Deryl berada. Dibantu Reta, Ghea berhasil menyimpan foto dan video dari Instagram Story dan Feed milik Deryl, maupun repost story teman-teman Deryl.
Ghea dan Reta sampai kampus jam sembilan pagi. Keadaan kampus tidak begitu ramai. Ghea dan Reta sepakat tidak memberitahu Deryl bahwa mereka sedang di Sydney, apalagi ke kampusnya. Sudah hampir setengah tahun sejak Deryl masuk kuliah S2 di sana, Ghea dan Deryl menjalani long distance relationship. Deryl pernah mengirim foto jadwal semester satu kuliahnya kepada Ghea. Hari ini, Selasa, jadwal kuliah Deryl dimulai dari jam sepuluh pagi sampai sore.
Dari pintu masuk Quadrangle, University of Sydney, mereka berdua berjalan bersama melewati Great Hall sampai mendekati Badham Building.
“Kita berpencar dari sini. Pokoknya cari selama satu jam. Setelah satu jam, ketemu ga ketemu, langsung balik ke Quadrangle,” ujar Reta tegas.
“Oke.”
“Inget, Ge. Lo harus siap dengan apapun yang lo liat atau temukan nanti.” Reta memegang pundak Ghea.
Ghea mengangguk sekali, lalu berjalan menuju Social Science Building karena Deryl mengambil jurusan Ekonomi Politik.
Di sisi lain, Reta menuju Badham Building. Banyak mahasiswa sedang duduk atau berdiri membaca buku di sekitar gedung ini. Reta mengedarkan pandangan dengan mata tajam. Di salah satu Instagram Story Deryl seminggu lalu, Reta melihat lokasi yang disematkan Deryl dan wanita yang diduga selingkuhannya adalah di sekitar sini.
Mungkin hari ini mereka kesini lagi, gumam Reta.
Di depan Reta sekitar lima meter jauhnya, sesosok pria yang dikenalnya keluar dari sebuah ruangan.
“Kayak kenal,” ujar Reta lirih. Pria tinggi bertopi dan memakai headset itu keluar dari Badham Building, lalu berjalan cepat ke arah yang berlawanan dari Reta. “Kayaknya kasir resto Melokal, deh.”
Reta melupakan sejenak tujuan mencari Deryl. Dia mengikuti pria kasir itu. Susah payah Reta menyamakan kecepatan langkahnya dengan pria itu. Mereka berjalan terus menyusuri Manning Road. Tak sampai lima menit, mereka sampai di Manning Kiosk. Pria itu masuk ke toko tersebut dan Reta masih mengikuti.
Iya, benar. My goodness, ternyata dari dekat ganteng banget, batin Reta setelah bisa melihat jelas pria itu. Mereka kini bersebelahan di depan display cooler. Pria itu membuka pintu pendingin itu dan mengambil sekaleng cafe latte. Reta berpura-pura sibuk mencari cemilan di rak toko.
Sementara itu, di tempat lain, Ghea menyusuri semua lantai di dalam Social Science Building. Tak kunjung melihat Deryl, Ghea keluar gedung memutari gedung John Woolley Building melalui Western Ave dan Wallace Theatre hingga sampai di Rex Champorn Studio. Ghea mendadak berhenti di depan gedung studio itu. Dari arah berlawanan sekitar 60-meter jaraknya, Ghea melihat Deryl sedang jalan berdua dengan seorang wanita. Wanita yang sama persis dengan yang ada di semua foto dan video yang Reta kumpulkan. Jantung Ghea berdetak dua kali lipat lebih cepat.
Tangannya dingin, tapi hatinya panas. Dia melangkah lagi untuk memastikan pria itu benar Deryl. Deryl dan wanita itu berbelok ke jalan sebelah kanan. Ghea mempercepat langkah menuju belokan itu. Setelah berbelok, jarak Ghea sudah sekitar sepuluh meter dari Deryl dan wanita itu.
Iya, itu Deryl. Ghea membatin pahit.
Mereka berjalan memasuki Graffiti Tunnel yang sepi. Tiba-tiba, Deryl berhenti dan meraih tangan wanita itu. Jantung Ghea sekarang seakan berhenti berdetak. Kakinya mengerem mendadak. Deryl dan wanita itu kini saling berhadapan. Posisi mereka menjadi menyamping sehingga Ghea bisa melihat wajah sisi kiri Deryl dan sisi kanan sang wanita.
DERYL! NGGAK! Teriak Ghea dalam hati.
Dua detik kemudian Deryl mencium pipi kiri wanita itu.
“Deryl!” teriak Ghea disusul dengan tangan kanan yang menutup mulutnya.
Mencari sumber teriakan, Deryl terkejut bukan main bahwa itu Ghea. Ghea segera membalikkan badan dan berlari menjauhi Deryl dan wanita itu.
“Ghea?” Suara Deryl seakan tercekat. “GHEA!”
Tanpa pikir panjang Deryl berlari menyusul Ghea, meninggalkan wanita yang tadi diciumnya.
Di toko tempat Reta mengikuti pria kasir, Reta menyusul pria itu yang berjalan lebih dulu ke luar toko. Reta bermaksud memanggil pria itu, tiba-tiba…
BRUK!
“Aww!” seru Ghea.
Ghea menabrak punggung pria bertopi. Sementara caffe latte yang sedang diminum pria bertopi, tumpah mengenai bajunya.
“Sorry, I’m so sorry,” ucap Ghea memelas sambil memejamkan mata dan menelungkupkan kedua tangannya.
Pria bertopi membalikkan badan untuk melihat siapa yang menabraknya. Dilihatnya Ghea yang masih memejamkan mata, bahkan sambil menangis. Dia ingat wajah gadis itu.
“Oh, hai. It’s okay,” balas pria bertopi.
“I’m sorry if you got hurt or upset. But, I gotta go now. Sorry.” Tanpa menatap pria bertopi, Ghea pergi begitu saja dan terus berlari.
Pria bertopi sempat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kakinya hendak melangkah menyusul Ghea.
“GHEA!” teriak Deryl menyalip pria bertopi.
Lagi-lagi pria bertopi dibuat bingung. Dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya menyusul Ghea.
Reta yang bengong menyaksikan kejadian di depannya, langsung berlari menyusul Deryl.
“DERYL! BERHENTI!”
Reta berhasil menyusul Deryl dan menarik tas punggung Deryl. Mereka berdua hampir saja terjatuh.
“Stop, Deryl! Please, STOP!”
Deryl semakin terkejut dengan kehadiran Reta di kampusnya. Dia terpaksa berhenti berlari.
“Biarin Ghea tenang dulu,” perintah Reta dengan nafas terengah-engah.
Deryl masih mengatur nafasnya yang kembang kempis. Dengan berpose membungkuk dan kedua tangan memegang lutut, Deryl memperhatikan Reta.

Bagus Ceritanya. Jadi penasaran cerita selanjutnya. Hehe