“Perfect. How long will it take?”
“About one to two hours.”
“Okay. I’ll wait. Thank you so much, Branton.”
Branton memamerkan senyum lebarnya. “Anytime, Miss Ghea.”
Ghea menyadari Nathan berdiri diam dan bersabar menunggu percakapannya dengan Branton selesai.
“Sorry ya, jadi dianggurin.”
“Ga, kok. Komunikasi memang penting supaya masalah bisa segera diselesaikan. Ikut lega dengar masalah air bisa teratasi.”
Kata-kata Nathan entah mengandung energi elektromagnetik dari mana, membuat Ghea merinding. Dia teringat masalahnya dengan Deryl. Komunikasinya dengan Deryl sedang buruk saat ini.
“Kak Ghea? Kak?” tanya Nathan cemas melihat Ghea tiba-tiba melamun.
“Ah, iya, sorry. Jadi, ini kopinya?”
“Iya. Kopi Kintamani lima pouch, Kopi Gangga Lombok rasa coklat dan apel masing-masing satu pouch.” Nathan menyerahkan satu paper bag berukuran sedang berisi kopi-kopi pesanan Ghea.
“Wah, makasih banyak, ya!” seru Ghea.
Ghea membuka paper bag sejenak untuk melihat isinya. Nathan dapat melihat betapa senangnya Ghea melihat kopi-kopi itu.
“Oh, iya. Silahkan duduk. Masa mau berdiri terus?” ajak Ghea.
“Makasih, tapi sepertinya Kak Ghea butuh istirahat dulu. Wajah Kak Ghea pucat.”
“Ga, kok. Ini karena lagi ga make up aja jadi pucat, hehe. Oh, iya, please panggil aku Ghea aja dan ga perlu pake kata ‘saya’. Kaku banget, hahaha.”
Nathan menggaruk bagian belakang kepalanya, salah tingkah. Dia terbiasa menggunakan panggilan itu untuk wanita muda yang baru dikenalnya.
“Dan kamu tau darimana namaku Ghea?”
Nathan terperanjat. Dia baru ingat bahwa Ghea tidak pernah memberitahukan langsung namanya kepadanya.
“Oh, itu, dari teman kamu, waktu di restoran kemarin. Aku ga sengaja dengar saat dia panggil nama kamu.”
“Gitu.” Ghea mengangguk-angguk pelan meski dia tidak ingat betul Reta memanggil namanya dengan suara keras sampai terdengar oleh Nathan saat itu.
“Umm, kamu sudah makan?” tanya Nathan.
“Tadi sudah makan bubur.”
“Oh, gitu.” Mendadak suasana menjadi canggung. “Kalau gitu aku pamit.”
“Iya, sekali lagi terima kasih. Lain kali aku makan lagi di restoran kamu. Enak banget makanannya.”
KRUYUK KRUYUK
Ghea melihat perutnya yang tiba-tiba keroncongan. Lalu mendongak melihat Nathan, kedua pipi Ghea berubah merah muda, sementara Nathan tersenyum simpul.
“Sebagai ungkapan terimakasih sudah melariskan kopi dan kasih review positif soal restoran Melokal, aku mau traktir makan. Please.”
“Oh, hmm, makasih banget ajakannya. Tapi, aku belum lapar banget dan belum mandi.”
KRUYUK KRUYUK KRUYUK
Kali ini suara perut lapar Ghea semakin kencang. Brenton bahkan sampai tertawa kecil. Ghea melihat mata biru Nathan yang dengan tenang menatapnya dan bibirnya yang tersenyum lembut. Kontan Ghea menunduk.
“Please,” pinta Nathan.
============
Penulis: risandrea

Comments (0)